Budi daya Jagung

Posted on Updated on

BUDIDAYA JAGUNG
Oleh Henry Winoto di API (Asosiasi Pepaya Indonesia) JAWA BARAT (Berkas) ·

BUDIDAYA JAGUNG

Tanaman jagung merupakan salah satu jenis tanaman pangan biji-bijian dari

keluarga rumput-rumputan. Berasal dari Amerika yang tersebar ke Asia dan

Afrika melalui kegiatan bisnis orang-orang Eropa ke Amerika. Sekitar abad

ke-16 orang Portugal menyebarluaskannya ke Asia termasuk Indonesia.

Orang Belanda menamakannya mais dan orang Inggris menamakannya corn.

Sentra Penanaman

Di Indonesia, daerah-daerah penghasil utama tanaman jagung adalah Jawa

Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, Madura, D.I. Yogyakarta, Nusa Tenggara

Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, dan Maluku. Khusus di Daerah

Jawa Timur dan Madura, budidaya tanaman jagung dilakukan secara

intensif karena kondisi tanah dan iklimnya sangat mendukung untuk

pertumbuhannya.

Jenis

Sistimatika tanaman jagung adalah sebagai berikut:

Kingdom : Plantae (tumbuh-tumbuhan)

Divisio : Spermatophyta (tumbuhan berbiji)

Sub Divisio : Angiospermae (berbiji tertutup)

Classis : Monocotyledone (berkeping satu)

Ordo : Graminae (rumput-rumputan)

Familia : Graminaceae

Genus : Zea

Species : Zea mays L.

Jenis jagung dapat dikelompokkan menurut umur dan bentuk biji.

Menurut umur, dibagi menjadi 3 golongan:

1. Berumur pendek (genjah): 75-90 hari, contoh: Genjah Warangan,

Genjah Kertas, Abimanyu dan Arjuna.

2. Berumur sedang (tengahan): 90-120 hari, contoh: Hibrida C 1,

Hibrida CP 1 dan CPI 2, Hibrida IPB 4, Hibrida Pioneer 2, Malin,

Metro dan Pandu.

3. Berumur panjang: lebih dari 120 hari, contoh: Kania Putih, Bastar,

Kuning, Bima dan Harapan.

Menurut bentuk biji, dibagi menjadi 7 golongan:

1. Dent Corn

2. Flint Corn

3. Sweet Corn

4. Pop Corn

5. Flour Corn

6. Pod Corn

7. Waxy Corn

Varietas unggul mempunyai sifat: berproduksi tinggi, umur pendek, tahan

serangan penyakit utama dan sifat-sifat lain yang menguntungkan.

Varietas unggul ini dapat dibedakan menjadi dua, yaitu: jagung hibrida dan

varietas jagung bersari bebas.

Nama beberapa varietas jagung yang dikenal antara lain: Abimanyu, Arjuna,

Bromo, Bastar Kuning, Bima, Genjah Kertas, Harapan, Harapan Baru, Hibrida

C 1 (Hibrida Cargil 1), Hibrida IPB 4, Kalingga, Kania Putih, Malin, Metro,

Nakula, Pandu, Parikesit, Permadi, Sadewa, Wiyasa, Bogor Composite-2.

Manfaat

Tanaman jagung sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia dan hewan.

Di Indonesia, jagung merupakan komoditi tanaman pangan kedua terpenting

setelah padi. Di Daerah Madura, jagung banyak dimanfaatkan sebagai makanan

pokok.

Akhir-akhir ini tanaman jagung semakin meningkat penggunaannya. Tanaman

jagung banyak sekali gunanya, sebab hampir seluruh bagian tanaman dapat

dimanfaatkan untuk berbagai macam keperluan antara lain:

– Batang dan daun muda: pakan ternak

– Batang dan daun tua (setelah panen): pupuk hijau atau kompos

– Batang dan daun kering: kayu bakar

– Batang jagung: lanjaran (turus)

– Batang jagung: pulp (bahan kertas)

– Buah jagung muda (putren, Jw): sayuran, bergedel, bakwan, sambel

goreng

– Biji jagung tua: pengganti nasi, marning, brondong, roti jagung, tepung,

bihun, bahan campuran kopi bubuk, biskuit, kue kering, pakan ternak,

bahan baku industri bir, industri farmasi, dextrin, perekat, industri textil.

SYARAT PERTUMBUHAN

Tanaman jagung berasal dari daerah tropis yang dapat menyesuaikan diri

dengan lingkungan di luar daerah tersebut. Jagung tidak menuntut persyaratan

lingkungan yang terlalu ketat, dapat tumbuh pada berbagai macam tanah bahkan

pada kondisi tanah yang agak kering. Tetapi untuk pertumbuhan optimalnya,

jagung menghendaki beberapa persyaratan.

Iklim

Iklim yang dikehendaki oleh tanaman jagung adalah daerah-daerah beriklim sedang

hingga daerah beriklim sub-tropis/tropis yang basah. Jagung dapat tumbuh di

daerah yang terletak antara 0-50 derajat LU hingga 0-40 derajat LS.

Pada lahan yang tidak beririgasi, pertumbuhan tanaman ini memerlukan curah

hujan ideal sekitar 85-200 mm/bulan dan harus merata. Pada fase pembungaan

dan pengisian biji tanaman jagung perlu mendapatkan cukup air. Sebaiknya jagung

ditanam diawal musim hujan, dan menjelang musim kemarau.

Pertumbuhan tanaman jagung sangat membutuhkan sinar matahari. Tanaman jagung

yang ternaungi, pertumbuhannya akan terhambat dan memberikan hasil biji yang

kurang baik bahkan tidak dapat membentuk buah.

Suhu yang dikehendaki tanaman jagung antara 21-34 derajat C, akan tetapi bagi

pertumbuhan tanaman yang ideal memerlukan suhu optimum antara 23-27 derajat

C. Pada proses perkecambahan benih jagung memerlukan suhu yang cocok

sekitar 30 derajat C.

Saat panen jagung yang jatuh pada musim kemarau akan lebih baik daripada musim

hujan, karena berpengaruh terhadap waktu pemasakan biji dan pengeringan hasil.

Media Tanam

Jagung tidak memerlukan persyaratan tanah yang khusus. Agar supaya dapat

tumbuh optimal tanah harus gembur, subur dan kaya humus.

Jenis tanah yang dapat ditanami jagung antara lain: andosol (berasal dari gunung

berapi), latosol, grumosol, tanah berpasir. Pada tanah-tanah dengan tekstur berat

(grumosol) masih dapat ditanami jagung dengan hasil yang baik dengan

pengolahan tanah secara baik. Sedangkan untuk tanah dengan tekstur lempung/liat

(latosol) berdebu adalah yang terbaik untuk pertumbuhannya.

Keasaman tanah erat hubungannya dengan ketersediaan unsur-unsur hara tanaman.

Keasaman tanah yang baik bagi pertumbuhan tanaman jagung adalah pH antara

5,6-7,5.

Tanaman jagung membutuhkan tanah dengan aerasi dan ketersediaan air dalam

kondisi baik.

Tanah dengan kemiringan kurang dari 8 % dapat ditanami jagung, karena disana

kemungkinan terjadinya erosi tanah sangat kecil. Sedangkan daerah dengan tingkat

kemiringan lebih dari 8 %, sebaiknya dilakukan pembentukan teras dahulu.

Ketinggian Tempat

Jagung dapat ditanam di Indonesia mulai dari dataran rendah sampai di daerah

pegunungan yang memiliki ketinggian antara 1000-1800 m dpl. Daerah dengan

ketinggian antara 0-600 m dpl merupakan ketinggian yang optimum bagi

pertumbuhan tanaman jagung.

PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA

Pembibitan (Persyaratan Benih)

Benih yang akan digunakan sebaiknya bermutu tinggi, baik mutu genetik, fisik

maupun fisiologinya. Berasal dari varietas unggul (daya tumbuh besar, tidak tercampur benih/varietas lain, tidak mengandung kotoran, tidak tercemar hama dan penyakit).

Benih yang demikian dapat diperoleh bila menggunakan benih bersertifikat. Pada umumnya benih yang dibutuhkan sangat bergantung pada kesehatan benih, kemurnian benih dan daya tumbuh benih.

Penggunaan benih jagung hibrida biasanya akan menghasilkan produksi yang lebih tinggi. Tetapi harga benihnya yang lebih mahal dan hanya dapat digunakan
maksimal 2 kali turunan dan tersedia dalam jumlah terbatas. Beberapa varietas unggul jagung untuk dipilih sebagai benih adalah: Hibrida C 1, Hibrida C 2, Hibrida Pioneer 1, Pioneer 2, IPB 4, CPI-1, Kaliangga, Wiyasa, Arjuna, Baster kuning, Kania Putih, Metro, Harapan, Bima, Permadi, Bogor Composite, Parikesit, Sadewa, Nakula.

Selain itu, jenis-jenis unggul yang belum lama dikembangkan adalah: CPI-2, BISI-1, BISI-2, P-3, P-4, P-5, C-3, Semar 1 dan Semar 2 (semuanya jenis Hibrida).

Pembibitan (Penyiapan Benih)

Benih dapat diperoleh dari penanaman sendiri yang dipilih dari beberapa tanaman

jagung yang sehat pertumbuhannya. Dari tanaman terpilih, diambil yang tongkolnya

besar, barisan biji lurus dan penuh tertutup rapat oleh klobot, dan tidak terserang

oleh hama penyakit.

Tongkol dipetik pada saat lewat fase matang fisiologi dengan ciri: biji sudah

mengeras dan sebagian besar daun menguning. Tongkol dikupas dan dikeringkan

hingga kering betul.

Apabila benih akan disimpan dalam jangka lama, setelah dikeringkan tongkol

dibungkus dan disimpan dan disimpan di tempat kering.

Dari tongkol yang sudah kering, diambil biji bagian tengah sebagai benih.

Biji yang terdapat di bagian ujung dan pangkal tidak digunakan sebagai benih.

Daya tumbuh benih harus lebih dari 90%, jika kurang dari itu sebaiknya benih diganti.

Benih yang dibutuhkan adalah sebanyak 20-30 kg/ha.

Pembibitan (Pemindahan Benih)

Sebelum benih ditanam, sebaiknya dicampur dulu dengan fungisida seperti

Benlate untuk menangkal serangan jamur. Sedangkan bila diduga akan ada

serangan lalat bibit dan ulat agrotis, sebaiknya benih dimasukkan ke dalam

lubang bersama-sama dengan insektisida butiran dan sistemik seperti Furadan 3 G.

Pengolahan Media Tanam (Persipan)

Dilakukan dengan cara membalik tanah dan memecah bongkah tanah agar

diperoleh tanah yang gembur untuk memperbaiki aerasi. Tanah yang akan

ditanami (calon tempat barisan tanaman) dicangkul sedalam 15-20 cm,

kemudian diratakan. Tanah yang keras memerlukan pengolahan yang lebih banyak.

Pertama-tama tanah dicangkul/dibajak lalu dihaluskan dan diratakan.

Pengolahan Media Tanam (Pembukaan Lahan)

Pengolahan lahan diawali dengan membersihkan lahan dari sisa sisa tanaman

sebelumnya. Bila perlu sisa tanaman yang cukup banyak dibakar, abunya

dikembalikan ke dalam tanah, kemudian dilanjutkan dengan pencangkulan dan

pengolahan tanah dengan bajak.

Pengolahan Media Tanam (Pembentukan Bedengan)

Setelah tanah diolah, setiap 3 meter dibuat saluran drainase sepanjang barisan

tanaman.

Lebar saluran 25-30 cm dengan kedalaman 20 cm. Saluran ini dibuat terutama

pada tanah yang drainasenya jelek.

Pengolahan Media Tanam (Pengapuran)

Di daerah dengan pH kurang dari 5, tanah harus dikapur. Jumlah kapur yang

diberikan berkisar antara 1-3 ton yang diberikan tiap 2-3 tahun.

Pemberian dilakukan dengan cara menyebar kapur secara merata atau pada

barisan tanaman, sekitar 1 bulan sebelum tanam.

Dapat pula digunakan dosis 300 kg/ha per musim tanam dengan cara disebar

pada barisan tanaman.

Pengolahan Media Tanam (Pemupukan)

Apabila tanah yang akan ditanami tidak menjamin ketersediaan hara yang cukup

maka harus dilakukan pemupukan. Dosis pupuk yang dibutuhkan tanaman sangat

bergantung pada kesuburan tanah dan diberikan secara bertahap.

Anjuran dosis rata-rata adalah :
full Kimia :
– Urea = 200-300 kg/ha,

– TSP = 75-100 kg/ha

– KCl = 50-100 kg/ha.

atau dengan semi organik dg dicampur pupuk organik diantaranya

– POC organik
– ZPT ( zat pengatur tumbuh Hantu )
-NPK ORGANIK ( jago tani )

Untuk penanaman organik full bisa dilihat postingan ” cara bertanam , budidaya jagung ala jimmy hantu )

Adapun cara dan dosis pemupukan untuk setiap hektar:

Pemupukan dasar:

– 1/3 bagian pupuk Urea dan 1 bagian pupuk TSP diberikan saat tanam, 7 cm

di parit kiri dan kanan lubang tanam sedalam 5 cm lalu ditutup tanah;

– Susulan I: 1/3 bagian pupuk Urea ditambah 1/3 bagian pupuk KCl diberikan

setelah tanaman berumur 30 hari, 15 cm di parit kiri dan kanan lubang tanam

sedalam 10 cm lalu di tutup tanah;

– Susulan II: 1/3 bagian pupuk Urea diberikan saat tanaman berumur 45 hari.

Teknik Penanaman (Penentuan Pola Tanaman)

Pola tanam di daerah tropis seperti di Indonesia, biasanya disusun selama 1 tahun

dengan memperhatikan curah hujan (terutama pada daerah/lahan yang

sepenuhnya tergantung dari hujan.

Beberapa pola tanam yang biasa diterapkan adalah sebagai berikut:

– Tumpang sari (intercropping), melakukan penanaman lebih dari 1 tanaman (umur

sama atau berbeda).

Contoh: tumpang sari sama umur seperti jagung dan kedelai; tumpang sari

beda umur seperti jagung, ketela pohon, padi gogo.

– Tumpang gilir (Multiple Cropping), dilakukan secara beruntun sepanjang tahun

dengan mempertimbangkan faktor-faktor lain untuk mendapat keuntungan

maksimum.

Contoh: jagung muda, padi gogo, kacang tanah, ubi kayu.

– Tanaman Bersisipan (Relay Cropping): pola tanam dengan cara menyisipkan

satu atau beberapa jenis tanaman selain tanaman pokok (dalam waktu

tanam yang bersamaan atau waktu yang berbeda).

Contoh: jagung disisipkan kacang tanah, waktu jagung menjelang panen

disisipkan kacang panjang.

– Tanaman Campuran (Mixed Cropping): penanaman terdiri atas beberapa

tanaman dan tumbuh tanpa diatur jarak tanam maupun larikannya,

semua tercampur jadi satu Lahan efisien, tetapi riskan terhadap

ancaman hama dan penyakit.

Contoh: tanaman campuran seperti jagung, kedelai, ubi kayu.

Teknik Penanaman (Pembuatan Lubang Tanam)

Lubang tanam dibuat dengan alat tugal. Kedalaman lubang perlu di perhatikan

agar benih tidak terhambat pertumbuhannya. Kedalaman lubang tanam

antara: 3-5 cm, dan tiap lubang hanya diisi 1 butir benih.

Jarak tanam jagung disesuaikan dengan umur panennya, semakin panjang

umurnya, tanaman akan semakin tinggi dan memerlukan tempat yang lebih luas.

1 Jagung berumur dalam/panjang dengan waktu panen ³ 100 hari sejak penanaman,

jarak tanamnya dibuat 40×100 cm (2 tanaman /lubang)

2 Jagung berumur sedang

(panen 80-100 hari), jarak tanamnya 25×75 cm (1 tanaman/lubang).

3 Sedangkan jagung berumur pendek (panen 70 hr ) jarak 20 x 60 cm ( 1 tanam /lubang )

Alat Tugal

Teknik Penanaman (Cara Penanaman)

Pada jarak tanam 75 x 25 cm setiap lubang ditanam satu tanaman. Dapat juga

digunakan jarak tanam 75 x 50 cm, setiap lubang ditanam dua tanaman.

Tanaman ini tidak dapat tumbuh dengan baik pada saat air kurang atau saat air

berlebihan. Pada waktu musim penghujan atau waktu musim hujan hampir berakhir,
benih jagung ini dapat ditanam. Tetapi air hendaknya cukup tersedia selama
pertumbuhan tanaman jagung. Pada saat penanaman sebaiknya tanah dalam keadaan lembab dan tidak tergenang.

Apabila tanah kering, perlu diairi dahulu, kecuali bila diduga 1-2 hari lagi
hujan akan turun. Pembuatan lubang tanaman dan penanaman biasanya memerlukan 4 orang (2 orang membuat lubang, 1 orang memasukkan benih, 1 orang lagi memasukkan pupuk dasar dan menutup lubang). Jumlah benih yang

dimasukkan per lubang tergantung yang dikehendaki, bila dikehendaki 2 tanaman
per lubang maka benih yang dimasukkan 3 biji per lubang, bila dikehendaki 1
tanaman per lubang, maka benih yang dimasukkan 2 butir benih per lubang.

Teknik Penanaman (Lain-Lain)

Di lahan sawah irigasi, jagung biasanya ditanam pada musim kemarau.
Di sawah tadah hujan, ditanam pada akhir musim hujan,sedangkan Di lahan kering ditanam pada awal musim hujan dan akhir musim hujan.

Pemeliharaan (Penjarangan dan Penyulaman)

Dengan penjarangan maka dapat ditentukan jumlah tanaman per lubang sesuai dengan yang dikehendaki.

Apabila dalam 1 lubang tumbuh 3 tanaman, sedangkan yang dikehendaki hanya 2 atau 1, maka tanaman tersebut harus dikurangi.
Tanaman yang tumbuhnya paling tidak baik, dipotong dengan pisau atau gunting yang tajam tepat di atas permukaan tanah.

Pencabutan tanaman secara langsung tidak boleh dilakukan, karena akan melukai akar tanaman lain yang akan dibiarkan tumbuh.

Penyulaman bertujuan

untuk mengganti benih yang tidak tumbuh/mati. Kegiatan ini dilakukan 7-10 hari sesudah tanam.

Jumlah dan jenis benih serta perlakuan dalam penyulaman sama dengan sewaktupenanaman. Penyulaman hendaknya menggunakan benih dari jenis yang sama.
Waktu penyulaman paling lambat dua minggu setelah tanam.

Pemeliharaan (Penyiangan)

Penyiangan bertujuan untuk membersihkan lahan dari tanaman pengganggu (gulma).

Penyiangan dilakukan 2 minggu sekali. Penyiangan pada tanaman jagung yang masih muda biasanya dengan tangan atau cangkul kecil, garpu dan sebagainya. Yang penting dalam penyiangan ini tidak mengganggu perakaran tanaman yang pada umur tersebut masih belum cukup kuat mencengkeram tanah.
Hal ini biasa dilakukan setelah tanaman berumur 15 hari.

Pemeliharaan (Pembumbunan)

Pembumbunan dilakukan bersamaan dengan penyiangan dan bertujuan untuk memperkokoh posisi batang, sehingga tanaman tidak mudah rebah. Selain itu juga untuk menutup akar yang bermunculan di atas permukaan tanah karena adanya aerasi. Kegiatan ini dilakukan pada saat tanaman berumur 6 minggu, bersamaan dengan waktu pemupukan.

Caranya, tanah di sebelah kanan dan kiri barisan tanaman diuruk dengan cangkul, kemudian ditimbun di barisan tanaman.

Dengan cara ini akan terbentuk guludan yang memanjang, untuk efisiensi tenaga biasanya pembubunan dilakukan bersama dengan penyiangan kedua yaitu setelah tanaman berumur 1 bulan.

Pemeliharaan (Pemupukan)

Dosis pemupukan jagung untuk setiap hektarnya adalah :

– pupuk Urea sebanyak200-300 kg,

– pupuk TSP/SP 36 sebanyak 75-100 kg,

– pupuk KCl sebanyak 50-100 kg.

Pemupukan dapat dilakukan dalam tiga tahap.

– Pada tahap pertama (pupuk dasar), pupuk diberikan bersamaan
dengan waktu tanam.

– Pada tahap kedua (pupuk susulan I), pupuk diberikan setelah tanaman jagung berumur 3-4 minggu setelah tanam.

– Pada tahap ketiga (pupuk susulan II), pupuk diberikan setelah tanaman jagung berumur 8 minggu atau setelah malai keluar.

Pemeliharaan (Pengairan dan Penyiraman)

Setelah benih ditanam, dilakukan penyiraman secukupnya, kecuali bila tanah telah lembab.
Pengairan berikutnya diberikan secukupnya dengan tujuan menjaga agar tanaman tidak layu, namun menjelang tanaman berbunga, air yang diperlukan

lebih besar sehingga perlu dialirkan air pada parit-parit di antara bumbunan tanaman jagung.

Pemeliharaan (Waktu Penyemprotan Pestisida)

Penggunaan pestisida hanya diperkenankan setelah terlihat adanya hama yang dapat membahayakan proses produksi jagung. Adapun pestisida yang digunakan
yaitu pestisida yang dipakai untuk mengendalikan ulat.
Pelaksanaan penyemprotan hendaknya memperlihatkan kelestarian musuh lami dan tingkat populasi hama yang menyerang, sehingga perlakuan ini akan ebih efisien.

Hama dan Penyakit

1. Hama Lalat bibit (Atherigona exigua Stein

Daerah sebaran : Jawa, Sumatra, Sulawesi, NTT.

Tanaman inang : Jagung, Padi gogo, sorgum , gandum, dan rumput

Cynodon dactylon, Panicum rapen serta aspalum konjugatum

Gejala : daun berubah warna menjadi kekuning-kuningan; di sekitar bekas gigitan atau bagian yang terserang mengalami pembusukan, akhirnya tanaman menjadi layu, pertumbuhan tanaman menjadi kerdil atau mati.

Penyebab: lalat bibit dengan ciri-ciri warna lalat abu-abu, warna punggung kuning kehijauan dab bergaris, warna perut coklat kekuningan, warna telur putih mutiara, dan panjang lalat 3-3,5 mm.

Pengendalian :

(1) penanaman serentak dan penerapan pergiliran tanaman
akan sangat membantu memutus siklus hidup lalat bibit, terutama setelah selesai panen jagung;

(2) tanaman yang terserang lalat bibit harus segera dicabut dan dimusnahkan, agar hama tidak menyebar;

(3) kebersihan di sekitar areal
penanaman hendaklah dijaga dan selalu diperhatikan terutama terhadap tanaman inang yang sekaligus sebagai gulma;
(4) pengendalian secara kimiawi insektisida
yang dapat digunakan antara lain: Dursban 20 EC, Hostathion 40 EC, Larvin 74 WP, Marshal 25 ST, Miral 26 dan Promet 40 SD sedangkan dosis penggunaan dapat mengikuti aturan pakai.

2. Hama Ulat pemotong

Gejala : tanaman jagung yang terserang biasanya terpotong beberapa cm diatas permukaan tanah yang ditandai dengan adanya bekas gigitan pada batangnya, akibatnya tanaman jagung yang masih muda itu roboh di atas tanah.

Penyebab : beberapa jenis ulat pemotong: Agrotis sp. (A. ipsilon); Spodoptera litura, penggerek batang jagung (Ostrinia furnacalis), dan penggerek buah jagung (Helicoverpa armigera).

Agrotis sp. (A. ipsilon)

Spodoptera litura

Ostrinia furnacalis

Helicoverpa armigera

Pengendalian :

(1) bertanam secara serentak pada areal yang luas, bisa juga dilakukan

pergiliran tanaman;

(2) dengan mencari dan membunuh ulat-ulat tersebut yang biasanya

terdapat di dalam tanah;

(3) sebelum lahan ditanami jagung, disemprot terlebih dahulu dengan

insektisida.

3. Hama Ulat grayak (Spodeptera sp., Mythimna sp.)

Daerah sebaran : Sumatra, Jawa, Bali, Kalimantan, Sulawesi, dan irian jaya

Tanaman Inang : Jagung, teki, kedelai, dan kacang-kacangan lain

Gejala : Daun berlubang-lubang atau tinggal tulang daunnya.

Penyebabnya : Spodoptera sp.

Ngengat berwarna coklat, aktif di malam hari. Telurnya berwarna putih

sampai kekuningan, berkelompok. Tiap ekor bisa bertelur 400 butir, priode

telur 5 hari. Larva aktif di malam hari, umur larva 31 hari, stadium

kepompong 8 hari.

Pengendalian : Komponen pengendalian meliputi :

– Pergiliran tanaman

– Tanaman serempak

– Sanitasi Inang Liar

– Penyemprotan dengan Insektisida

4. Hama Kumbang Landak

Daerah sebaran : Jawa, sumatra, Sulawesi.

Tanaman inangnya : jagung, Sorgum, padi dan ilalang.

Gejalanya : Bekas gerekan pada daun sejajar dengan tulang daun.

Serangan yang berat dapat menyebabkan daun mengering.

Penyebabnya : Datctylispa balyi Gets.

Sayap depan tebal dan sayap belakang tipis Berwarna

Hitam.

Telurnya di letakkan di jaringan daun muda sebelah atas

diantara epidermis daun. Seekor betina bertelur sampai

75 butir.

Periode telur 6-13 hari. Larva hidup dan makan didalam

jaringan daun. Stadia larva I – IV sekitar 18 – 24 hari.

Kepompong berada pada daun yang mengering. Stadium

kepompong 8 – 14 hari.

Pengendalian : Komponen pengendalian Terpadu meliputi:

– Waktu tanaman serempak

– Pergiliran tanaman

– Sanitasi Inang Liar dan sisa tanaman

– Aplikasi insektisida efektif seperti Klorpirifos dan

Isosaktion

5. Hama kumbang Bubuk ( Sitophilus sp )

Daerah sebaran : tersebar luas di seluruh dunia

Inangnya : Beras, jagung, sorgum, dan kacang-kacangan.

Gejalanya : Biji jagung berlubang-lubang dan bercampur kotoran serangga

serta banyak kumbang bubuk. Kumbang bubuk menyerang

mulai dari lapangan sampai di gidang penimpanan biji.

Penyebabnya : Kumbang Sitophilus sp ( Motsch ). Serangga.

Betina mampu bertelur 300-500 butir. Periode telur 3-7 hari .

siklus hidupnya sekitar 30-45 hari serangga dewasa tanpa

di beri makan dapat bertahan hidup selama 36 hari dan bila

di beri makan dapat hidup antara 3-5 bulan.

Pengendalian :

Komponen pengendalian terpadu meliputi :

– Varietas tahan : genyah madura dan Goter

– Pengeringan biji/ benih kadar air 10%

– Sanitasi tempat penyimpanan biji

– Pengasapan

– Bahan nabati untuk dicampur biji sebelum di simpan : Serbuk daun

Putri malu , daun Mendi, daun Nimba, akar tuba, Biji Mahani, dan rimpong

dringo dengan takaran 20-10 g/kg biji.

– Kapur barus atau Insektisida Karbofuran di bungkus kain dimasukan

ke dala Kontainer / jergen jagung sebelum di tutup.

6. Penyakit bulai (Downy mildew)

Daerah sebaran : Diseluruh Propinsi di Indonesia

Tanaman Inang : jagung, sorgum, tebu, beberapa jenis rumput-rumputan

Penyebab: cendawan Peronosclero spora maydis dan P. spora javanica serta

P.spora philippinensis. yang akan merajalela pada suhu udara 27

derajat C ke atas serta keadaan udara lembab.

Gejala :

(1) pada tanaman berumur 2-3 minggu, daun runcing dan kecil, kaku dan

pertumbuhan batang terhambat, warna menguning, sisi bawah daun

terdapat lapisan spora cendawan warna putih;

(2) pada tanaman berumur 3-5 minggu, tanaman yang terserang mengalami

gangguan pertumbuhan, daun berubah warna dan perubahan warna ini

dimulai dari bagian pangkal daun, tongkol berubah bentuk dan isi;

(3) pada tanaman dewasa, terdapat garis-garis kecoklatan pada daun tua.

Pengendalian :

(1) penanaman dilakukan menjelang atau awal musim penghujan;

(2) pola tanam dan pola pergiliran tanaman, penanaman varietas unggul;

(3) dilakukan pencabutan tanaman yang terserang,kemudian dimusnahkan.

7. Penyakit bercak daun (Leaf bligh)

Daerah sebaran : Tersebar luas di seluruh dunia

Tanaman inang : Jagung, sorgum, “Suadangrass”, Johnsongrass,

Gama Grass dan teosinte

Penyebab : cendawan Helminthosporium turcicum. Gejala: pada daun tampak

bercak memanjang dan teratur berwarna kuning dan dikelilingi

warna coklat, bercak berkembang dan meluas dari ujung daun

hingga ke pangkal daun, semula bercak tampak basah, kemudian

berubah warna menjadi coklat kekuning-kuningan, kemudian

berubah menjadi coklat tua. Akhirnya seluruh permukaan

daun berwarna coklat.

Pengendalian :

(1) pergiliran tanaman hendaknya selalu dilakukan guna menekan

meluasnya cendawan;

(2) mekanis dengan mengatur kelembaban lahan agar kondisi lahan tidak

lembab;

(3) kimiawi dengan pestisida antara lain: Daconil 75 WP, Difolatan 4 F.

8. Penyakit karat (Rust)

Daerah sebaran : Di seluruh dunia, termasuk di seluruh wilayah Indonesia

Tanaman inang : Jagung

Penyebab : cendawan Puccinia sorghi Schw dan Puccinia polypora Underw.

Gejala : pada tanaman dewasa yaitu pada daun yang sudah tua terdapat

titik-titik noda yang berwarna merah kecoklatan seperti karat serta

terdapat serbuk yang berwarna kuning kecoklatan, serbuk

cendawan ini kemudian berkembang dan memanjang, kemudian

akhirnya karat dapat berubah menjadi bermacam-macam bentuk.

Pengendalian :

(1) mengatur kelembaban pada areal tanam;]

(2) menanam varietas unggul atau varietas yang tahan terhadap

penyakit;

(3) melakukan sanitasi pada areal pertanaman jagung;

(4) kimiawi menggunakan pestisida seperti pada penyakit bulai dan

bercak daun.

9. Penyakit gosong bengkak (Corn smut/boil smut)

Penyebab : cendawan Ustilago maydis (DC) Cda, Ustilago zeae (Schw) Ung,

Uredo zeae Schw, Uredo maydis DC.

Gejala : pada tongkol ditandai dengan masuknya cendawan ini ke dalam biji

sehingga terjadi pembengkakan dan mengeluarkan kelenjar (gall),

pembengkakan ini menyebabkan pembungkus terdesak hingga

pembungkus rusak dan kelenjar keluar dari pembungkus dan

spora tersebar.

Pengendalian :

(1) mengatur kelembaban areal pertanaman jagung dengan cara

pengeringan dan irigasi;

(2) memotong bagian tanaman kemudian dibakar;

(3) benih yang akan ditanam dicampur dengan fungisida secara merata

hingga semua permukaan benih terkena.

10. Penyakit busuk tongkol dan busuk biji

Penyebab : cendawan Fusarium atau Gibberella antara lain Gibberella zeae

(Schw), Gibberella fujikuroi (Schw), Gibberella moniliforme.

Gejala : dapat diketahui setelah membuka pembungkus tongkol, biji-biji

jagung berwarna merah jambu atau merah kecoklatan kemudian

berubah menjadi warna coklat sawo matang.

Pengendalian :

(1) menanam jagung varietas unggul, dilakukan pergiliran tanam,

mengatur jarak tanam, perlakuan benih;

(2) penyemprotan dengan fungisida setelah ditemukan gejala serangan.

11. Penyakit Busuk Batang

Daerah Sebaran : tersebar di Seluruh Dunia

Tanaman Inangnya : Jagung, sorgum, gandum. Oats, barley, kapas,

kedelai dll.

Gejala :

– Pangkal batang busuk sehingga bagian atas layu dan mengering

– Tongkol yang terserang menjadi busuk sebagian atau seluruhnya.

Penyebabnya : Fusarim spp., Colletotricum sp, Diplodia sp.,

Macrophomina sp., Pythium sp., Cephalosporium sp.

dan bakteri Erwinia sp.

Pengendalian:

– Varietas tahan, Benih sehat

– Pergiliran tanaman

– Pemupukan berimbang

– Drainase yang baik dimusim hujan

– Populasi diperjarang

– Hindari penanaman pada musim hujan

– Biopestisida

– Fungsisda efektif.

Panen

Hasil panen jagung tidak semua berupa jagung tua/matang fisiologis, tergantung

dari tujuan panen. Seperti pada tanaman padi, tingkat kemasakan buah jagung

juga dapat dibedakan dalam 4 tingkat: masak susu, masak lunak, masak tua dan

masak kering/masak mati.

1. Ciri dan Umur Panen

Ciri jagung yang siap dipanen adalah:

a) Umur panen adalah 86-96 hari setelah tanam.

b) Jagung siap dipanen dengan tongkol atau kelobot mulai mengering yang

ditandai dengan adanya lapisan hitam pada biji bagian lembaga.

c) Biji kering, keras, dan mengkilat, apabila ditekan tidak membekas.

Jagung untuk sayur (jagung muda, baby corn) dipanen sebelum bijinya terisi

penuh. Saat itu diameter tongkol baru mencapai 1-2 cm. Jagung untuk direbus

dan dibakar, dipanen ketika matang susu. Tanda-tandanya kelobot masih

berwarna hijau, dan bila biji dipijit tidak terlalu keras serta akan mengeluarkan

cairan putih.

Jagung untuk makanan pokok (beras jagung), pakan ternak, benih, tepung

dan berbagai keperluan lainnya dipanen jika sudah matang fisiologis.

Tanda-tandanya: sebagian besar daun dan kelobot telah menguning.

Apabila bijinya dilepaskan akan ada warna coklat kehitaman pada tangkainya

(tempat menempelnya biji pada tongkol). Bila biji dipijit dengan kuku, tidak

meninggalkan bekas.

2. Cara Panen

Cara panen jagung yang matang fisiologis adalah dengan cara memutar

tongkol berikut kelobotnya, atau dapat dilakukan dengan mematahkan

tangkai buah jagung.

Pada lahan yang luas dan rata sangat cocok bila menggunakan alat mesin

pemetikan.

3. Periode Panen

Pemetikan jagung pada waktu yang kurang tepat, kurang masak dapat

menyebabkan penurunan kualitas, butir jagung menjadi keriput bahkan

setelah pengeringan akan pecah, terutama bila dipipil dengan alat.

Jagung untuk keperluan sayur, dapat dipetik 15 sampai dengan 21 hari

setelah tanaman berbunga. Pemetikan jagung untuk dikonsumsi sebagai

jagung rebus, tidak harus menunggu sampai biji masak, tetapi dapat

dilakukan ± 4 minggu setelah tanaman berbunga atau dapat mengambil

waktu panen antara umur panen jagung sayur dan umur panen jagung

masak mati.

4. Prakiraan Produksi

Produksi jagung di suatu negara sering mengalami pasang surut.

Hal ini dapat terjadi sebagai akibat perubahan areal penanaman jagung.

Namun demikian dengan ditemukannya varietas-varietas unggul sebagai

imbangan berkurangnya lahan, maka totalitas produksi tidak akan terlalu

berubah. Irigasi dan pemupukan sangat penting untuk mendapatkan

produksi yang baik. Walaupun potensi hasil cukup tinggi, cara untuk

mendapatkan produksi pada tingkat optimal yang dilakukan oleh petani,

baru memberikan hasil 17 ton/ha.

Pascapanen

Setelah jagung dipetik biasanya dilakukan proses lanjutan yang merupakan

serangkaian pekerjaan yang berkaitan dan akhirnya produk siap disimpan atau

dipasarkan.

1. Pengupasan

Jagung dikupas pada saat masih menempel pada batang atau setelah

pemetikan selesai.

Pengupasan ini dilakukan untuk menjaga agar kadar air di dalam tongkol

dapat diturunkan dan kelembaban di sekitar biji tidak menimbulkan kerusakan

biji atau mengakibatkan tumbuhnya cendawan. Pengupasan dapat

memudahkan atau memperingan pengangkutan selama proses pengeringan.

Untuk jagung masak mati sebagai bahan makanan, begitu selesai dipanen,

kelobot segera dikupas.

2. Pengeringan

Pengeringan jagung dapat dilakukan secara alami atau buatan.

Secara tradisional jagung dijemur di bawah sinar matahari sehingga kadar air

berkisar 9-11 %. Biasanya penjemuran memakan waktu sekitar 7-8 hari.

Penjemuran dapat dilakukan di lantai, dengan alas anyaman bambu atau

dengan cara diikat dan digantung.

Secara buatan dapat dilakukan dengan mesin pengering untuk menghemat

tenaga manusia, terutama pada musim hujan. Terdapat berbagai cara

pengeringan buatan, tetapi prinsipnya sama yaitu untuk mengurangi kadar air

di dalam biji dengan panas pengeringan sekitar 38-43 derajat C, sehingga kadar

air turun menjadi 12-13 %. Mesin pengering dapat digunakan setiap saat dan

dapat dilakukan pengaturan suhu sesuai dengan kadar air biji jagung yang

diinginkan.

3. Pemipilan

Setelah dijemur sampai kering jagung dipipil. Pemipilan dapat menggunakan

tangan atau alat pemipil jagung bila jumlah produksi cukup besar. Pada dasarnya

“memipil” jagung hampir sama dengan proses perontokan gabah, yaitu

memisahkan biji-biji dari tempat pelekatan. Jagung melekat pada tongkolnya,

maka antara biji dan tongkol perlu dipisahkan.

4. Penyortiran dan Penggolongan

Setelah jagung terlepas dari tongkol, biji-biji jagung harus dipisahkan dari

kotoran atau apa saja yang tidak dikehendaki, sehinggga tidak menurunkan

kualitas jagung.

Yang perlu dipisahkan dan dibuang antara lain sisa-sisa tongkol, biji kecil,

biji pecah, biji hampa, kotoran selama petik ataupun pada waktu pengumpilan.

Tindakan ini sangat bermanfaat untuk menghindari atau menekan serangan

jamur dan hama selama dalam penyimpanan. Disamping itu juga dapat

memperbaiki peredaran udara.

Untuk pemisahan biji yang akan digunakan sebagai benih terutama untuk

penanaman dengan mesin penanam, biasanya membutuhkan keseragaman

bentuk dan ukuran buntirnya. Maka pemisahan ini sangat penting untuk

menambah efisiensi penanaman dengan mesin. Ada berbagai cara

membersihkan atau memisahan jagung dari campuran kotoran. Tetapi

pemisahan dengan cara ditampi seperti pada proses pembersihan padi,

akan mendapatkan hasil yang baik.

Disalin Oleh : http://www.hormonhantu.wordpress.com

Info lengkap : https://www.facebook.com/groups/125727137574570/doc/131686983645252/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s